Minggu, 19 Mei 2013

Sebuah Pengakuan-D


Pernah nggak sih kepikiran kalo kita bakalan ketemu lagi titik dimana kita mulai jalan? Kita bakalan kembali lagi ke titik itu, sengaja atau nggak, disadari atau nggak, semuanya udah kayak jalannya takdir. Aku nggak tahu aku udah sampai titik itu atau belum, karena aku masih belum yakin sama perasaanku sendiri. Semua hal makin susah didefinisikan seiring berjalannya waktu yang makin mendewasakan diri. Tahu-tahu kita udah berada dalam situasi rumit dimana untuk mengucapkan sesuatu yang simple aja kadang susah banget. Dari situlah aku mulai menarik kesimpulan. Ada dua. Yang pertama, aku masih belum dewasa, masih anak-anak yang sisi egoisnya masih tinggi. Masih mau menang sendiri, selalu ingin dimengerti tanpa mau mengerti. Berharap semua orang bisa mengerti apa yang aku mau tanpa aku harus memberitahunya. Tapi logikaku bilang, bukan seperti itu caranya. Tidak semua orang tahu apa yang benar-benar kita inginkan atau butuhkan. Kesimpulan yang kedua, kadang ada sesuatu yang memang nggak bisa diungkapkan sama kata-kata. Perasaan. Oke, “perasaan” itu sebuah kata. Tapi apa yang ada di dalamnya itulah yang susah diungkapkan. Orang bisa saja bilang kalau dia sedih, dan orang yang mendengarnya  pasti punya definisi sendiri tentang sedih itu. Seseorang mengatakan sakit hati. Tapi ia tidak bisa menjelaskan alasan kenapa sebenarnya dia bisa sakit hati. Sakit hati karena dibohongi? Oleh siapa? Orang yang sama sekali nggak ada hubungannya? Orang dari masa lalu? Pertanyaan yag selalu bingung untuk aku jawab. Kenapa aku harus ngerasa sakit hati sama seseorang yang bahkan baru beberapa bulan ini aku kenal? Orang yang dari dulu selalu jauh, tapi entah kenapa sekarang jadi dekat seperti ini.

Perasaan cewek itu lebih rapuh dari ranting tua, lebih tipis dari kertas. Sekali saja ranting itu diinjak, kertas tersobek, akan sangat susah memperbaikinya seperti semula. Aku nggak bilang nggak bisa, cuma susah. Mungkin aku lagi dalam kondisi memperbaiki diri sendiri. Nggak tahu kenapa aku ngerasa aku masih sakit hati. Aku malas untuk jujur, karena semakin aku jujur, kita makin jauh. Boleh copas? Aku piker tweet ini lagi pas sama isi hati. “andai dia menyadari betapa berarti hadirnya”. Aku nggak tahu sebenernya seberapa penting sih hadirnya di hidupku. Tapi 3 bulan terakhir ini aku ngerasa hidupku itu lebih ringan. Tiap aku ada masalah, aku tahu kemana aku harus cerita. I just think that I’ve found a shoulder where I should cry. I have a comfort place where I can share anything. And I should say that I think you’ve already being my brother which I never had, a best friend where I can share, a father that can guide me with simple and easy way…

Baru beberapa hari dan belum ada seminggu, mungkin masih dalam hitungan jam pun, selama aku nggak bisa cerita apapun karena masih ngerasa aneh dan nyesek, aku makin tambah nyesek. Lost contact jadi bikin aku ngerasa there’s no one where I can share with. Aku memang masih punya teman deket yang sering aku curhatin tapi rata-rata nggak ada yang bisa bener-bener ngerti aku, bahkan aku sendiri juga kadang nggak ngerti apa kemauanku. Dari situ aku mulai galau. I felt that I lost you for a while. Nggak tau karena kita intensitas komunikasinya sering selama ini atau gimana, tapi ya aku ngerasanya gitu. Semakin aku cari alasan yang lebih masuk akal, makin aku nggak ketemu. Aku bukan orang yang pinter ngatur kata-kata sebenernya, aku takut salah ngomong dan buat semuanya makin kacau. Aku tahu ngelupain sesuatu itu, untuk cewek, bener-bener susah. Tapi bisa nggak, kalo kejadian 3 hari terakhir ini didelete aja. Anggap semua bentuk dari emosiku nggak pernah terjadi.  Aku yang terlalu berharap. Jadi aku harus tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Kembali ke masa peralihan SMP ke SMA. Dari sana aku mulai kembali menata perasaan. Titik dimana semuanya mulai berjalan—setidaknya menurutku—normal. Dan quote of the night “don’t touch one’s heart if you’ll leave it like yesterday. It’s enough for breaking the heart once. If you do the same, remember that karma does exist.”

Sabtu, 21 Januari 2012

Antara Cinta dan Dilema

Aku punya pacar di kampus X, well, maksudku dulu, namanya Ri. Aku jadian sama dia selama 3 bulan saja. Bukan karena aku udah ga sayang sama dia, tapi karena kelakuannya dia yang bikin aku ngerasa aku bisa pantas mendapatkan yang lebih dari ini. Itu juga yang dikatakan oleh teman kampusku, Nu. Ia mengatakan bahwa Ri itu hanya bisa menyakiti perasaanku saja, yah aku akui itu memang ada benarnya. Aku dan Ri sempat putus nyambung dua kali. Aku berharap dengan putus kemarin itu, dia bisa mengubah sikap dan sifatnya. Namun nihil. Ia masih saja sama, bahkan lebih parah. Sampai akhirnya, aku telah pada batas kesabaranku. Dan aku memutuskan untuk putus lagi. Kali ini aku menambahkan, ga ada lagi putus selanjutnya. Ia memahami kata-kataku itu dan sampai detik ini kami ga nyambung lagi.

Tepat pada hari aku putus itu, ada seorang cowok yang juga kakak tingkatku di kampus X, tiba-tiba mengirimiku sms. Dan dari situ kami mulai dekat. Namanya Ru. Ia terus terang bahwa ia menyukaiku. Well, sebenarnya aku juga menyukainya, bahkan sejak pertama kali masuk kuliah. Namun perasaan itu aku anggap biasa saja, tak ku ambil pusing. Namun setelah satu minggu ini kami saling mengirim sms, rasanya aku menemui kecocokan sama dia. Apalagi waktu pertemuan kami yang singkat itu. Kami bercanda dan ku akui, ia cukup humoris. Tapi pertanyaannya adalah, apa wajar jika aku baru putus dari Ri dan kemudian langsung suka sama Ru? Apa iya perasaan itu bisa datang secepat ini?

When The Story End


                “Hiks hiks…” aku menangis dalam dekapan ibu. Setelah bertemu dengan ayah kemarin malam, aku masih merasa sakit. Entahlah sebenarnya kenapa. Aku merasa bertemu dengan orang yang telah membuat hidupku dan ibu berantakan. Semenjak kepergian ayah, ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari―dengan cara yang tidak halal! Karena ayah meninggalkan kami, ibu harus bekerja menjadi wanita panggilan. Aku benci ayah. Dan bertemu dengannya akan menjadi sebuah penyesalan mendalam.
                “Jenny, mungkin sudah sebaiknya kamu tahu yang sebenarnya tentang ayahmu,” ucap ibu dengan nada berat. Aku menatapnya, penuh heran. Ibu menarik napas panjang sebelum bercerita. Seolah melepaskan beban terberatnya selama hidup.
                Dimulai saat pertama kali ayah bertemu ibu di sebuah klub malam. Ia terpaksa menemani lelaki hidung belang untuk minum beberapa anggur dan bir. Tapi tidak sampai menemaninya ke tempat tidur. Ibu memang menolak untuk melakukan perbuatan itu awalnya. Namun, ia dipaksa oleh salah seorang temannya yang sekaligus manajer di klub tersebut. Ibu dulu hanya gadis biasa di daerah asalnya di pinggir kota. Namun, temannya mengajaknya ke kota dan ia dipaksa bekerja seperti itu. Ibu tak punya pilihan lain. Selain tidak punya uang, ia juga tidak punya tempat untuk bernaung di kota. Ibu memang merasa tertipu, tapi tak pernah protes kepada temannya karena sebuah hutang budi.
                Sampai saat ia bertemu dengan ayah saat keluar dari klub. Ayah kebetulan seorang security sebuah bank yang tidak sengaja lewat di depan klub. Begitu seorag jambret merampas tas ibu, ayah langsung mengejar jambret tersebut dan dari situlah awal mula perkenalan ibu dan ayah. Setelah melalui tahap pendekatan, ayah menikahi ibu dan membuat kesepakatan bahwa ibu harus meninggalkan pekerjaannya di klub malam tersebut.
                Setahun kemudian, aku lahir. Tapi saat itu, ayah tidak sedang bersama ibu. Ayah mendapat tugas ke luar kota sudah sejak 2 bulan sebelumnya. Begitu ayah kembali, awalnya ia senang. Sangat senang akan kelahiranku. Sampai saat aku sakit dan memerlukan banyak darah. Ayah ingin mendonorkan darahnya, tapi kata dokter, golongan darahku dan ayah berbeda. Dari situ, muncul kecurigaan ayah bahwa aku bukanlah anak kandung ayah. Mulai terjadi percekcokan karena ayah menduga bahwa aku adalah anak haram dari pria lain, pria hidung belang di klub malam. Padahal, ibu tidak pernah pergi ke sana lagi setelah menikah dengan ayah. Jadi pernikahan mereka hanya bertahan 4 tahun.
                Setelah perceraian, kondisi keuangan ibu menjadi sulit. Ibu harus mengutang kepada tetangga. Karena sudah lama mengutang, ibu menjadi tidak enak hati. Dengan berat hati ia kembali menjalani pekerjaannya yang lalu. Menemani pria hidung belang menghabiskan paling tidak satu botol wine. Tanpa sepengetahuanku!
                Karena masalah inilah ayah tega menceraikan ibu. Padahal tepat sehari sebelum bercerai, ayah dan aku menjalani tes DNA. Tentu saja saat itu aku belum mengerti. Namun, setelah bercerai, ayah merasa tes DNA itu tidak ada artinya lagi. Tahun berikutnya ia menikah lagi dengan seorang janda beranak satu.
                “Maafkan ibu sudah menutupi rahasia ini, Jen,” ucap ibu lirih. Aku memeluknya. Memakluminya.
                Ibu pasti sangat menderita. Aku bertekad untuk membuat ayah percaya bahwa aku adalah anak kandungnya. Kemudian aku bertanya pada ibu di rumah sakit mana saat aku dan ayah melakukan tes DNA. Alamatnya ku catat dan kusimpan di meja belajarku.
                Esoknya, aku bergegas pergi ke rumah sakit. Bertemu dengan spesialis untuk menanyakan hasil tes. Pria dengan kumis putih dan rambutnya yang juga putih itu kemudian memeriksa data di komputernya. Entah kenapa badanku jadi terasa panas dingin. Aku tidak tahu apa aku siap menerima kenyataan yang ada. Pria itu kemudian memberikan aku sebuah berkas dan menjelaskan isinya padaku. Dan…
                “Aku adalah anak kandungmu!” ketusku pada ayah setelah bergegas pergi dari rumah sakit.
                “Jen… aku… maafkan ayah,” ucapnya lirih.
                “Puas sekarang, Anda, Tuan George? Tuduhan kepada ibu saya itu sama sekali tidak benar! Kalau Anda tidak percaya, silakan langsung mengecek ke rumah sakit. Saya tidak ingin pengakuan dari Anda bahwa saya adalah anak Anda, tapi saya ingin Anda tahu, bahwa ibu Anna, ibu saya, tidak pernah berselingkuh dengan pria lain seperti yang Anda tuduhkan kepada Beliau. Permisi, Tuan George yang terhormat!” tegasku. Aku menaruh potokopian berkas tes DNA itu di meja ruang tamu. Sebelum pergi, sekilas ku lihat ayah masih mematung, menerawang entah ke mana. Air mukanya menunjukkan ekspresi kaget, tidak percaya, dan … ah entahlah. Yang penting aku sudah menjelaskan kepadanya. Sudah membersihkan nama ibu di depan ayah. Walaupun sebersit keinginan kadang muncul, kalau-kalau ayah mau kembali rujuk dengan ibu. Aku menggelengkan kepala dengan kuat. Tidak! Aku tidak mau menerimanya lagi. Aku benci padanya. Aku merasa sakit hati mendengar masa lalu ibu saat ayah memfitnahnya. Tidak akan pernah aku menerima ia kembali jadi ayahku.
                Sepulang dari rumah ayah, aku langsung menuju ke restoran tempatku bekerja. Karena ini hari Minggu dan aku sedang tidak ada kegiatan, aku masuk mulai pagi jam 10 hari ini. Setelah mengenakan seragamku, aku segera melaksanakan tugas.
                “Jen…” Dylan memanggilku dengan nada yang tidak bisa dibilang menyapa, terkejut, atau … entahlah. Aku menoleh ke arahnya.
                “Hai Dylan,” sapaku.
                “Kemarin aku heran kenapa setelah melihat ayahku kamu langsung pergi dari rumahku. Ada apa sebenarnya?” tanya Dylan.
                Aku terdiam. Bingung apa yang harus aku katakan pada Dylan. Apa iya aku harus mengatakannya pada Dylan? Akan bagaimana nanti reaksinya begitu mendengar bahwa ayahnya adalah ayahku juga? Apa aku harus jujur padanya? Padahal kami baru saja berstatus pacaran, apa harus dihentikan secepat ini?
                “Dylan, sebaiknya kau tanyakan dulu pada ayahmu. Karena … jujur, saat ini aku masih bingung menjawabnya. Aku takut, kalau kata-kataku ada yang tidak berkenan.”
                “Jen… Kau masih menganggapku sebagai pacarmu kan?” tanya Dylan.
                “Aku rasa mungkin kita harus break,” aku menundukkan kepalaku. Aku tahu, Dylan pasti sangat kaget mendengar jawabanku. Tapi mau bagaimana lagi? Seandainya ada yang bisa dilakukan untuk mengubah kenyataan ini.
                “T-tapi…”
                Aku menempelkan jari telunjukku di bibir Dylan, membuatnya menghentikan ucapannya.
                “Aku tahu mungkin memang aneh, tapi setelah kau tahu yang sebenarnya dari ayahmu, aku yakin kau bisa mengerti, dan aku harap kau bisa menerimanya,” jawabku lirih. Maaf. Maafkan aku Dylan. Aku juga tidak bermaksud seperti ini. Tapi kita… kita bersaudara. Kita saudara tiri!
***
                Esoknya, Dylan mendadak cuek padaku. Ia tak sekalipun menatapku saat kerja, seperti biasa. Tak pernah lagi mengajakku berbicara, bahkan sekarang sepertinya ia tak menganggapku ada. Sepertinya ia sedang menghindariku. Apa ia sudah bertanya pada ayahnya? Apa ayah sudah memberitahunya tentang semuanya? Apa karena ia tahu aku ini saudara tirinya, lantas ia tak mau lagi berbicara denganku? Dan kenapa? Kenapa ia harus berolah seperti tak mengenalku lagi? Apa ia marah padaku karena aku tidak memberitahunya? Apa harus aku cari jawaban dari semua ini?
                “D-Dylan…” sapaku terbata.
                “Ya?” balas Dylan tanpa menoleh sedikit pun kepadaku. Aku terdiam. Berpikir. Apa aku yakin akan menanyakan apa yang terjadi pada Dylan? Bagaimana kalau dia memang marah? Jujur, aku memang sayang padanya, tapi jika status kami ternyata benar kakak adik bagaimana? Apa aku sanggup berpisah darinya? Saat ini aku baru menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Fool me!
                “Ada apa?” tanyanya dingin, “ada yang penting? Kalau memang tidak ada, aku per…”
                “Tunggu!” potongku, “Eum, aku mau bertanya… ng…”
                “Kalau kau mau ngobrol, nanti saja setelah kerja,” ucapnya ketus lalu beralih ke ruang manajemen. Aku mengembuskan napas, kecewa. Apa dia memang marah? Kenapa ucapannya ketus seperti itu.
                Pulang kerja, aku menunggunya di depan restoran. Namun ia mengatakan bahwa ada keperluan dan segera pergi. Gagal lagi. Entah kenapa, sekarang aku dan Dylan menjadi menjauh. Rasanya sakiit sekali. Lebih sakit daripada bertemu ayah dulu. Tak terasa sudah seminggu Dylan menjauh dan usahaku untuk mengajaknya berbicara selalu gagal. Setiap jam istirahat di restoran, ia selalu ‘sok’ menyibukkan diri, saat pulang kerja, ia selalu bilang ada keperluan, atau jika tidak, pasti ada tugas kuliah, dan lain-lain dan kawan-kawan.
                Selama 7 hari minggu depan, restoran tutup untuk memberi refreshing untuk karyawannya. Seluruh karyawan langsung sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang berlibur ke luar negeri, ada yang hanya berdiam di rumah seraya mengadakan pesta barbeque dengan keluarga, ada juga yang sibuk dengan pendidikannya. Aku? Entahlah seminggu ini akan berbuat apa.
                Aku teringat akan Dylan. Entah kenapa, beberapa hari ini pikiranku selalu terpaut padanya. Setelah minta izin dari ibu, aku segera pergi ke rumah Dylan, dengan menerima konsekuensi harus bertemu dengan Ayah. Aku menarik napas panjang saat berada di depan gerbang rumahnya. Kembali bimbang. Apa aku sudah yakin akan menemui ayah? Setelah beberapa lama aku berdiri mematung dengan kebimbangan, aku memutuskan untuk menekan bel.
                “Siapa?” tanya seorang pria dari intercom.
                “Ada Dylan? Aku Jen,” jawabku pelan.
                “…” tak ada jawaban. Apa Dylan tak ingin bertemu denganku?  5 menit aku menunggu di depan gerbang. Tak ada yang membukakannya untukku. Aku mulai putus asa. Sudahlah, batalkan saja. Untuk apa juga aku bertemu dengannya? Apa juga yang harus ku katakan padanya?
                Aku berbalik dan berjalan.
                KRIIEEET! Suara gerbang tiba-tiba dibuka. Dylan menarik tanganku dan mendekapku. Hmm… kehangatan yang aku rindukan.
                “Jangan pulang dulu,” ucapnya sambil terus memelukku. Aku balas memeluknya. Erat. Aku benar-benar merindukannya. Sangat merindukannya. Entah bagaimana aku bisa benar-benar jatuh cinta padanya.
                Kemudian, ia mengajakku ke toko ice cream favorit kami dan memilih tempat favorit kami. Di sudut dekat jendela. Ia shock, sempat shock saat mengetahui yang sebenarnya dari ayah. Ia pun juga tak menyangka bahwa kami sebenarnya adalah saudara tiri yang dilahirkan oleh orang tua yang berbeda. Beberapa lama kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Tidak, mungkin hanya dia yang berpikir tentang sesuatu. Aku tidak memikirkan apa-apa, tidak bisa memikirkan apa-apa. Entah kenapa, pikiranku rasanya blank!
                “Maaf, ya aku sempat tak menghiraukanmu. Aku tak berniat begitu,” Dylan menunduk menatap pada es krimnya dengan kedua tangan mengepal.
                Aku menggenggam tangannya, “Tak apa, Dylan. Aku mengerti. Awal aku mengetahui itu juga aku sempat shock.”
                “Kita akan mengatakannya pada orang tua kita tentang hubungan kita?” tanya Dylan. “Karena aku tidak mampu jika harus menjalani hari tanpamu,” sambungnya.
                Aku mengangguk. Keesokan harinya, kami pergi menemui ibuku. Awalnya ibuku memang sangat kaget. Tapi Dylan menunjukkan tekad dan rasa cintanya untukku pada ibu, ibu pun mau mengerti. Walau sebenarnya aku mengerti, dari nada bicara ibu sepertinya berat rasanya melepasku bersama Dylan, anak dari perempuan yang sekarang menjadi istri mantan suaminya.
                Seminggu kemudian, aku dan Dylan pergi menuju rumah Dylan. Perlu waktu lama untuk menyiapkan mental untuk bertemu dengan orang tua Dylan. Ada perasaan ragu dan takut, jika ayah akan menentang hubungan kami. Dengan perlahan, Dylan menjelaskan semuanya. Di luar dugaan, ayah setuju saja, ia bahkan tidak memperlihatkan wajah kaget atau tidak suka.
                “Kalau memang menurutmu Jen adalah cintamu, cintailah ia sepenuh hati. Jangan sampai menyesal kalau Jen akan pergi dengan pria lain. Jen kan idola cowok,” ucap ayah dengan nada bercanda. Kami tertawa. Ibu Dylan memang terlihat kurang suka, raut wajah yang sama dengan wajah ibu, tapi akhirnya ia juga mengizinkan hubungan kami. Well, the best day ever!
***
                Aku menutup buku harianku yang sudah terlihat usang. Masa lalu itu seperti sinetron. Ada saat klimaks dan anti klimaks. Perjalanan hidupku di masa lalu memang beragam. Kebanyakan surprise. Untungnya ada my prince Dylan, dan sekarang…
                “Ma, kita sudah siap piknik?” tanya Jack, putra sulungku, seraya menggandeng Greysia, putri kecilku.
                Aku tersenyum kepada mereka, “Iya. Ayo berangkat!”
                Aku meletakkan kembali buku harianku di bawah tumpukan baju di lemari dan segera keluar menyusul anak-anakku yang berlarian girang memasuki mobil. Di kursi depan, tempat pengemudi telah duduk pria yang menemaniku 7 tahun ini, ia telah menjadi soulmateku. Dylan.
                “Aku lama?” tanyaku.
                Dylan menoleh, “Sangat.”
                Kami berempat tertawa dan mobil pun melaju menuju sebuah taman, tempat di mana kami akan piknik, juga tempat pertama kali Dylan mengutarakan perasaannya padaku. Tempat ini dulu hanya menjadi taman bermain, namun setelah direnovasi, tempat ini diperluas dan sebagian wilayahnya dijadikan taman hijau.
                Yeah, mulai detik ini, hidupku, juga keluargaku, akan bahagia, bersama Dylan, Jack, dan Greysia

.

Run Away


”Aku benci ibu!” seruku.
            Aku berlari menerjang kerumunan orang yang mengitari kami. Aku sakit hati! Menerima kenyataan pahit. Kenyataan bahwa ibuku adalah seorang wanita panggilan! Selama ini aku mengira ibuku adalah orang baik-baik. Ia bekerja untuk menghidupiku, membiayai semua keperluanku, dengan hasil yang halal! Tapi ternyata, semua uang yang selama ini telah menghidupiku hanya uang yang diperoleh dari pekerjaan rendahan yang kotor dan hina.
            Ibu tak pernah mengatakan sama sekali kepadaku tentang pekerjaannya. Dan saat aku tahu, aku… ugh! Kenapa sih malah jadi seperti ini? Aku kesal! Marah! Ryan mencoba mengejarku. Menangkap tanganku. Air mataku tidak bisa berhenti. Ryan menuntunku ke rumahnya. Aku sesenggukan di dalam dekapannya.
            “Maaf, tak seharusnya aku mengajakmu ke sana,” ujarnya. Aku tak menjawab. Aku terus menangis.
            Malam ini aku tidur di rumah Ryan. Kamar yang manis. Dinding dengan cat warna coklat muda terasa nyaman di mataku. Sebuah lemari berisi gaun tidur dan beberapa tumpukan baju milik Rheina, kakak Ryan yang kabur 3 tahun lalukalau aku jadi dia, aku tak akan kabur. Rumah nyaman seperti ini gitu loh! Ryan bilang aku bisa memakainya. Wow! Pilihan kakak Ryan top banget.
            Aku mengambil gaun tidur berwarna kuning dan segera menuju tempat tidur. Huuft. Aku mencoba memejamkan mataku tapi tetap tak bisa tertidur. Masih terbayang di mataku sosok ibuku yang mencium pria hidung belang itu! Aku salah membanggakannya. Sebuah kesalahan besar telah membanggakannya. Aku benci, sangat membencinya. Aku kembali mengubah posisi tidurku. Air mataku tak tertahan lagi. Aku sesenggukan.
            Ryan mengetuk pintu kamar dan masuk. Ia duduk di samping tempat tidur. Aku beranjak duduk dan menghapus air mataku. Ryan kembali memelukku. Aku tidak menangis lagi.
            “Maaf aku mengajakmu ke sana,” ucapnya.
            “Tak apa, Ryan. Aku beruntung karena sudah tahu yang sesungguhnya.”
            “Jen, sebenarnya aku sudah tahu sejak lama.”
            Aku menoleh, “Hah? Maksudmu?”
            Ryan menarik napas panjang. Bingung mencari kalimat yang tepat.
            “Pertama kali, euhm, sekitar hampir setahun yang lalu, aku diajak oleh salah satu temanku ke klab itu. Aku melihat ibumu di sana. Awalnya aku memang tak yakin akan penglihatanku. Namun setelah aku melihatnya lagi, aku yakin kalau itu memang ibumu. Aku, semalam mengajakmu ke sana karena aku mau menunjukkan hal ini. Aku yakin kamu belum mengetahuinya. Tapi sebenarnya, aku sama sekali tidak ada maksud untuk menyakiti perasaanmu jika kau mengetahuinya. Aku…”
            “Enough, Ryan. Aku tak apa. Hanya sedikit kaget. Aku… I’m okay. I just need some rest.”
            Ryan tersenyum, “Ok. Good night.”
            Aku kembali menelungkupkan diri di kasur dan menutupi diriku dengan selimut hangat. Kali ini akku mencoba memejamkan mata. Berharap aku bisa beristirahat sejenak malam ini. Aku melihat jam dinding. 2 dini hari. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya.
            Relax, Jen.
            Kakiku telah sampai di depan sebuah rumah mungil. Ragu aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalamnya. Semoga saja ibu tidak ada di rumah hari ini. Aku takut jika bertemu dengannya. Aku belum siap bertatap muka dengannya. Entahlah, aku juga tidak mengerti akan perasaanku. Aku merasa malu dengan teman-temanku. Teman-temanku yang membela dan memuji ibuku. Mereka salah menilai. Aku merasa hina di hadapan mereka.
            Aku mengendap bagai maling untuk memasuki kamarku. Perlahan aku buka pintunya. Masih sama seperti terakhir aku meninggalkannya. Boneka-boneka masih terpajang rapi di atas lemari mini dan beberapa lagi di tempat tidurku.
            Aku mengambil koper miniku yang dulu aku gunakan untuk ke luar kota bersama ibu. Aku memasukkan beberapa baju dan buku pelajaran. Hampir semua peralatanku yang memang tidak terlalu banyak aku masukkan di koper. Kalau boneka, mungkin aku tinggal saja.
            PLUK! Sebuah album poto mini terjatuh saat aku mengambil sebuah tas kecilku di atas lemari. Aku memungutnya. Ku buka lembar demi lembar. Di sana terdapat seorang gadis kecil bergaun merah dan seorang wanita sedang mencium pipi kanannya. Aku dan ibu. Lembar selanjutnya, aku berumur 6 tahun pergi ke taman bermain dengan ibu. Juga saat aku menangis karena jatuh. Aku ingat masa itu, ibu menggendongku dan mengobati luka di lututku. Ia berkata, “Tidak ada sesuatu ataupun seseorang yang membuatmu menangis. Tidak akan pernah ada. Ibu akan selalu ada di sampingmu. Karena kau adalah permata ibu.” Saat itu aku langsung memeluknya dan meminta arumanis.
            Dari situ juga aku bertekad yang sama. Aku tidak mau melihat ibu menangis. Aku akan selalu menjaganya. Selalu di sampingnya. Menjadikannya berlian di hatiku. Di manapun dan kapanpun butuh bantuan, ibu selalu ada di sampingku, begitu juga sebaliknya. Kami selalu mengerjakan segala sesuatunya bersama. Membersihkan rumah, shopping, memasak, dan masih banyak lagi. Sikap ibu selalu bisa mengimbangiku. Seakan dia masih muda. Aku sangat menyayanginya.
            Tanpa terasa air mataku jatuh. Aku masih ingin bersama ibu. Masih ingin memeluknya, melihatnya tersenyum, dan masih banyak lagi. Tapi, satu sisi hatiku membencinya. Aku tidak menyukai pekerjaannya. BRUUK! Aku mendengar sesuatu terjatuh. Dari kamar ibu. Aku pergi ke kamarnya dan mencoba mengintipnya. Ibu tergeletak di lantai! Aku langsung menelepon rumah sakit.
***
            Ia terbaring tak terdaya. Mukanya pucat. Selang-selang infus mengitari tubuhnya. Menurut analisis sementara, ibu kelelahan dan maagnya kambuh. Lambungnya juga terdapat luka. Aku menatapnya. Ibu masih cantik walaupun sudah terdapat kerutan-kerutan kecil di wajahnya. Terlihat rapuh dan tak berdaya. Aku mengelus pipinya pelan. Tak seharusnya aku meninggalkannya. Pasti ia merasa sangat kehilangan. Bodohnya aku. Aku harusnya bisa lebih mengerti. Ia bekerja seperti itu demi aku. Demi pendidikan dan hidupku. Yang aku kecewakan adalah, ia tak memberitahu keadaan yang sebenarnya. Jika memang kesulitan ekonomi, aku bisa kerja part time seperti teman-temanku yang lain.
            Kemarin aku berpikir, pantas saja ayah pergi meninggalkan ibu. Pekerjaan ibu memang tidak baik. Tapi saat ini, yang aku butuhkan adalah kesembuhan ibu. Yang aku butuhkan saat ini adalah senyuman tulus ibu. Terlepas dari semua yang terjadi malam itu. Aku mengecup pelan dahi ibu.
            “Ngh… Jen…” ibu mendesah.
            Aku menggenggam tangannya. Tak lama, ibu sadar. Ia menangis. Ia menyesal telah menyembunyikan pekerjaannya selama ini. Ia takut aku akan meninggalkannya jika aku tahu pekerjaannya. Air mata pun tak dapat terbendung. Aku memeluknya dan berjanji tidak akan pernah lagi meninggalkannya. Dan kami membuat kesepakatan, ibu harus berhenti dari pekerjaannya dan membolehkanku bekerja part time.
            Beberapa hari kemudian, ibu keluar dari rumah sakit. Aku sudah melamar di sebuah restoran kecil di pertigaan jalan. Restoran ini dekat dengan sekolahku. Setiap pulang sekolah, aku langsung bekerja hingga jam 8 malam. Sedangkan ibu, ia membuat beberapa kerajinan tangan dan dijual di pasar.
            “Antar makanan ini ke meja lima,” perintah Dylan, atasanku. Aku menurut dan membawanya ke meja 5. Aku melirik sedikit ke arah Dylan. Dylan adalah cowok tegas. Aku dengar, ia juga kerja part time. Dylan sangat perfeksionis, walaupun kadang ia sendiri sebal dengan sifatnya itu. Entah kenapa, sepertinya ia ingin menghilangkan sifat itu, namun susah.
            “Langsung pulang, Jen?” tanya Dylan saat briefing. Aku mengangguk. Ia menawarkan mengantarku. Aku setuju. Malam seperti ini kalau berjalan kaki kan bahaya. Setelah mengambil motornya, kami segera melaju sampai ke rumahku.
            Sudah satu minggu aku bekerja dan 6 kali Dylan mengantarku pulang. Ibu juga sudah berkenalan dengan Dylan.
            “Dylan orang yang baik, Jen,” komentar ibu saat kami memasak bersama di dapur. Aku tersenyum.
            “Kenapa tidak pacaran?”
            “Hah? P-pacaran? Ibu, aku belum berpikir ke arah sana.”
            “Tapi sayang jika cowok seperti Dylan itu disia-siakan,” goda ibu. Aku hanya diam tertunduk dengan wajah memerah. Entahlah.
            Aku melirik jam dinding. Sudah jam 3 sore? Gawat, aku harus bekerja. Aku langsung berpamitan pada ibu dan segera berangkat.
            “Baru datang, Jen?” Dylan berdiri di sebelahku saat briefing hampir dimulai. Aku tersenyum kecut dan mengangguk. Sepertinya, Dylan juga baru berangkat. Setelah pembagian tugas, kami segera melaksanakannya. Huuft, ternyata hari Minggu ini banyak sekali pelanggannya. Yah,  kebanyakan sih pasangan gitu. Saat senggang, aku memperhatikan beberapa pasangan di ruangan ini. Aura mereka penuh cinta, yah walaupun ada juga sih yang aku lihat hanya main-main, di sudut ruangan malah ada yang sedang bertengkar. Semoga saja mereka tidak menumpahkan minumannya ke kepala orang seperti yang ada di sinetron. Kalau iya, wah Chika, sang cleaning service pasti berat kerjanya.
            Pulang kerja, Dylan mengajakku jalan sebentar. Aku menyanggupi setelah pamit kepada ibuku. Dylan mengatakan ia harus pulang dulu sebelum jalan, karena ia ingin menaruh tasnya yang memang terlihat amat besar dan penuh muatan itu. Rumah Dylan besar saat aku memandangnya setelah sampai di depan rumahnya. Dindingnya berwarna putih gading dengan aksen naturalis. Setelah menaruh tas, ia mengajakku ke taman bermain yang berada beberapa blok dari rumahnya. Ia mengajakku duduk di ayunan.
            Saat itulah, ia menyatakan cinta. Awalnya aku memang kaget. Setelah ia mengatakan beberapah patah kalimat yang meyakinkanku, aku menerimanya. Kami jadian. Ia juga sempat menyalakan lampu taman, yah seperti yang pernah terlihat di televisi. Menurutku itu romantis. Setelah berapa lama di taman, aku merasa ngantuk dan pergi ke rumah Dylan untuk mengambil tasku dan pulang.
            Di ruang tamu, ada ayah Dylan sedang duduk menghadap ke arah lukisan keluarga. Entah apa yang dilihatnya. Aku berjalan tanpa melihat ke arahnya. Setelah mengambil tas, aku menuju ke luar dan bertemu dengan ayah Dylan.
            And you know what? Dengan jelas aku menatap wajah ayah Dylan. Aku merasa sangat familiar. Yeah, begitupun ayah Dylan. Ia kaget melihatku di sini.
            “Ayah, kenalkan, ini Jenny, pacarku,” ucap Dylan pada ayahnya. Aku maupun ayah Dylan tetap berdiri mematung, menatap satu sama lain.
            “J-Jen…” ucap Ayah Dylan terbata.
            “Ayah…”
            “Jen? Kamu sudah kenal ayahku?” tanya Dylan. Aku tak menjawab. Ayah Dylan adalah orang yang sama….. dengan Ayahku! Maksudnya apa?! Ayah berjalan selangkah ke depanku. Tangannya mencoba menyentuh pipiku. Teringatlah semua yang telah terjadi beberapa tahun silam. Teringatlah semua kenangan pahit yang aku dan ibuku lalui. Semua kenangan buruk saat ayah meninggalkan kami. Aku menepisnya dengan kasar. Dylan maupun ayah kaget dengan sikapku, namun cara mereka melihat berbeda.
            “Terima kasih atas semua penderitaan yang sudah kau buat!” makiku pada ayah dan segera pergi. Dylan berusaha mengejar namun hanya sampai di ambang pintu. Aku berlari menembus malam. Dadaku sesak, aku ingin menangis.
            Ibu, aku bertemu ayah!





Bersambung