“Hiks hiks…” aku menangis dalam dekapan ibu. Setelah bertemu dengan ayah kemarin malam, aku masih merasa sakit. Entahlah sebenarnya kenapa. Aku merasa bertemu dengan orang yang telah membuat hidupku dan ibu berantakan. Semenjak kepergian ayah, ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari―dengan cara yang tidak halal! Karena ayah meninggalkan kami, ibu harus bekerja menjadi wanita panggilan. Aku benci ayah. Dan bertemu dengannya akan menjadi sebuah penyesalan mendalam.
“Jenny, mungkin sudah sebaiknya kamu tahu yang sebenarnya tentang ayahmu,” ucap ibu dengan nada berat. Aku menatapnya, penuh heran. Ibu menarik napas panjang sebelum bercerita. Seolah melepaskan beban terberatnya selama hidup.
Dimulai saat pertama kali ayah bertemu ibu di sebuah klub malam. Ia terpaksa menemani lelaki hidung belang untuk minum beberapa anggur dan bir. Tapi tidak sampai menemaninya ke tempat tidur. Ibu memang menolak untuk melakukan perbuatan itu awalnya. Namun, ia dipaksa oleh salah seorang temannya yang sekaligus manajer di klub tersebut. Ibu dulu hanya gadis biasa di daerah asalnya di pinggir kota. Namun, temannya mengajaknya ke kota dan ia dipaksa bekerja seperti itu. Ibu tak punya pilihan lain. Selain tidak punya uang, ia juga tidak punya tempat untuk bernaung di kota. Ibu memang merasa tertipu, tapi tak pernah protes kepada temannya karena sebuah hutang budi.
Sampai saat ia bertemu dengan ayah saat keluar dari klub. Ayah kebetulan seorang security sebuah bank yang tidak sengaja lewat di depan klub. Begitu seorag jambret merampas tas ibu, ayah langsung mengejar jambret tersebut dan dari situlah awal mula perkenalan ibu dan ayah. Setelah melalui tahap pendekatan, ayah menikahi ibu dan membuat kesepakatan bahwa ibu harus meninggalkan pekerjaannya di klub malam tersebut.
Setahun kemudian, aku lahir. Tapi saat itu, ayah tidak sedang bersama ibu. Ayah mendapat tugas ke luar kota sudah sejak 2 bulan sebelumnya. Begitu ayah kembali, awalnya ia senang. Sangat senang akan kelahiranku. Sampai saat aku sakit dan memerlukan banyak darah. Ayah ingin mendonorkan darahnya, tapi kata dokter, golongan darahku dan ayah berbeda. Dari situ, muncul kecurigaan ayah bahwa aku bukanlah anak kandung ayah. Mulai terjadi percekcokan karena ayah menduga bahwa aku adalah anak haram dari pria lain, pria hidung belang di klub malam. Padahal, ibu tidak pernah pergi ke sana lagi setelah menikah dengan ayah. Jadi pernikahan mereka hanya bertahan 4 tahun.
Setelah perceraian, kondisi keuangan ibu menjadi sulit. Ibu harus mengutang kepada tetangga. Karena sudah lama mengutang, ibu menjadi tidak enak hati. Dengan berat hati ia kembali menjalani pekerjaannya yang lalu. Menemani pria hidung belang menghabiskan paling tidak satu botol wine. Tanpa sepengetahuanku!
Karena masalah inilah ayah tega menceraikan ibu. Padahal tepat sehari sebelum bercerai, ayah dan aku menjalani tes DNA. Tentu saja saat itu aku belum mengerti. Namun, setelah bercerai, ayah merasa tes DNA itu tidak ada artinya lagi. Tahun berikutnya ia menikah lagi dengan seorang janda beranak satu.
“Maafkan ibu sudah menutupi rahasia ini, Jen,” ucap ibu lirih. Aku memeluknya. Memakluminya.
Ibu pasti sangat menderita. Aku bertekad untuk membuat ayah percaya bahwa aku adalah anak kandungnya. Kemudian aku bertanya pada ibu di rumah sakit mana saat aku dan ayah melakukan tes DNA. Alamatnya ku catat dan kusimpan di meja belajarku.
Esoknya, aku bergegas pergi ke rumah sakit. Bertemu dengan spesialis untuk menanyakan hasil tes. Pria dengan kumis putih dan rambutnya yang juga putih itu kemudian memeriksa data di komputernya. Entah kenapa badanku jadi terasa panas dingin. Aku tidak tahu apa aku siap menerima kenyataan yang ada. Pria itu kemudian memberikan aku sebuah berkas dan menjelaskan isinya padaku. Dan…
“Aku adalah anak kandungmu!” ketusku pada ayah setelah bergegas pergi dari rumah sakit.
“Jen… aku… maafkan ayah,” ucapnya lirih.
“Puas sekarang, Anda, Tuan George? Tuduhan kepada ibu saya itu sama sekali tidak benar! Kalau Anda tidak percaya, silakan langsung mengecek ke rumah sakit. Saya tidak ingin pengakuan dari Anda bahwa saya adalah anak Anda, tapi saya ingin Anda tahu, bahwa ibu Anna, ibu saya, tidak pernah berselingkuh dengan pria lain seperti yang Anda tuduhkan kepada Beliau. Permisi, Tuan George yang terhormat!” tegasku. Aku menaruh potokopian berkas tes DNA itu di meja ruang tamu. Sebelum pergi, sekilas ku lihat ayah masih mematung, menerawang entah ke mana. Air mukanya menunjukkan ekspresi kaget, tidak percaya, dan … ah entahlah. Yang penting aku sudah menjelaskan kepadanya. Sudah membersihkan nama ibu di depan ayah. Walaupun sebersit keinginan kadang muncul, kalau-kalau ayah mau kembali rujuk dengan ibu. Aku menggelengkan kepala dengan kuat. Tidak! Aku tidak mau menerimanya lagi. Aku benci padanya. Aku merasa sakit hati mendengar masa lalu ibu saat ayah memfitnahnya. Tidak akan pernah aku menerima ia kembali jadi ayahku.
Sepulang dari rumah ayah, aku langsung menuju ke restoran tempatku bekerja. Karena ini hari Minggu dan aku sedang tidak ada kegiatan, aku masuk mulai pagi jam 10 hari ini. Setelah mengenakan seragamku, aku segera melaksanakan tugas.
“Jen…” Dylan memanggilku dengan nada yang tidak bisa dibilang menyapa, terkejut, atau … entahlah. Aku menoleh ke arahnya.
“Hai Dylan,” sapaku.
“Kemarin aku heran kenapa setelah melihat ayahku kamu langsung pergi dari rumahku. Ada apa sebenarnya?” tanya Dylan.
Aku terdiam. Bingung apa yang harus aku katakan pada Dylan. Apa iya aku harus mengatakannya pada Dylan? Akan bagaimana nanti reaksinya begitu mendengar bahwa ayahnya adalah ayahku juga? Apa aku harus jujur padanya? Padahal kami baru saja berstatus pacaran, apa harus dihentikan secepat ini?
“Dylan, sebaiknya kau tanyakan dulu pada ayahmu. Karena … jujur, saat ini aku masih bingung menjawabnya. Aku takut, kalau kata-kataku ada yang tidak berkenan.”
“Jen… Kau masih menganggapku sebagai pacarmu kan?” tanya Dylan.
“Aku rasa mungkin kita harus break,” aku menundukkan kepalaku. Aku tahu, Dylan pasti sangat kaget mendengar jawabanku. Tapi mau bagaimana lagi? Seandainya ada yang bisa dilakukan untuk mengubah kenyataan ini.
“T-tapi…”
Aku menempelkan jari telunjukku di bibir Dylan, membuatnya menghentikan ucapannya.
“Aku tahu mungkin memang aneh, tapi setelah kau tahu yang sebenarnya dari ayahmu, aku yakin kau bisa mengerti, dan aku harap kau bisa menerimanya,” jawabku lirih. Maaf. Maafkan aku Dylan. Aku juga tidak bermaksud seperti ini. Tapi kita… kita bersaudara. Kita saudara tiri!
***
Esoknya, Dylan mendadak cuek padaku. Ia tak sekalipun menatapku saat kerja, seperti biasa. Tak pernah lagi mengajakku berbicara, bahkan sekarang sepertinya ia tak menganggapku ada. Sepertinya ia sedang menghindariku. Apa ia sudah bertanya pada ayahnya? Apa ayah sudah memberitahunya tentang semuanya? Apa karena ia tahu aku ini saudara tirinya, lantas ia tak mau lagi berbicara denganku? Dan kenapa? Kenapa ia harus berolah seperti tak mengenalku lagi? Apa ia marah padaku karena aku tidak memberitahunya? Apa harus aku cari jawaban dari semua ini?
“D-Dylan…” sapaku terbata.
“Ya?” balas Dylan tanpa menoleh sedikit pun kepadaku. Aku terdiam. Berpikir. Apa aku yakin akan menanyakan apa yang terjadi pada Dylan? Bagaimana kalau dia memang marah? Jujur, aku memang sayang padanya, tapi jika status kami ternyata benar kakak adik bagaimana? Apa aku sanggup berpisah darinya? Saat ini aku baru menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Fool me!
“Ada apa?” tanyanya dingin, “ada yang penting? Kalau memang tidak ada, aku per…”
“Tunggu!” potongku, “Eum, aku mau bertanya… ng…”
“Kalau kau mau ngobrol, nanti saja setelah kerja,” ucapnya ketus lalu beralih ke ruang manajemen. Aku mengembuskan napas, kecewa. Apa dia memang marah? Kenapa ucapannya ketus seperti itu.
Pulang kerja, aku menunggunya di depan restoran. Namun ia mengatakan bahwa ada keperluan dan segera pergi. Gagal lagi. Entah kenapa, sekarang aku dan Dylan menjadi menjauh. Rasanya sakiit sekali. Lebih sakit daripada bertemu ayah dulu. Tak terasa sudah seminggu Dylan menjauh dan usahaku untuk mengajaknya berbicara selalu gagal. Setiap jam istirahat di restoran, ia selalu ‘sok’ menyibukkan diri, saat pulang kerja, ia selalu bilang ada keperluan, atau jika tidak, pasti ada tugas kuliah, dan lain-lain dan kawan-kawan.
Selama 7 hari minggu depan, restoran tutup untuk memberi refreshing untuk karyawannya. Seluruh karyawan langsung sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang berlibur ke luar negeri, ada yang hanya berdiam di rumah seraya mengadakan pesta barbeque dengan keluarga, ada juga yang sibuk dengan pendidikannya. Aku? Entahlah seminggu ini akan berbuat apa.
Aku teringat akan Dylan. Entah kenapa, beberapa hari ini pikiranku selalu terpaut padanya. Setelah minta izin dari ibu, aku segera pergi ke rumah Dylan, dengan menerima konsekuensi harus bertemu dengan Ayah. Aku menarik napas panjang saat berada di depan gerbang rumahnya. Kembali bimbang. Apa aku sudah yakin akan menemui ayah? Setelah beberapa lama aku berdiri mematung dengan kebimbangan, aku memutuskan untuk menekan bel.
“Siapa?” tanya seorang pria dari intercom.
“Ada Dylan? Aku Jen,” jawabku pelan.
“…” tak ada jawaban. Apa Dylan tak ingin bertemu denganku? 5 menit aku menunggu di depan gerbang. Tak ada yang membukakannya untukku. Aku mulai putus asa. Sudahlah, batalkan saja. Untuk apa juga aku bertemu dengannya? Apa juga yang harus ku katakan padanya?
Aku berbalik dan berjalan.
KRIIEEET! Suara gerbang tiba-tiba dibuka. Dylan menarik tanganku dan mendekapku. Hmm… kehangatan yang aku rindukan.
“Jangan pulang dulu,” ucapnya sambil terus memelukku. Aku balas memeluknya. Erat. Aku benar-benar merindukannya. Sangat merindukannya. Entah bagaimana aku bisa benar-benar jatuh cinta padanya.
Kemudian, ia mengajakku ke toko ice cream favorit kami dan memilih tempat favorit kami. Di sudut dekat jendela. Ia shock, sempat shock saat mengetahui yang sebenarnya dari ayah. Ia pun juga tak menyangka bahwa kami sebenarnya adalah saudara tiri yang dilahirkan oleh orang tua yang berbeda. Beberapa lama kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Tidak, mungkin hanya dia yang berpikir tentang sesuatu. Aku tidak memikirkan apa-apa, tidak bisa memikirkan apa-apa. Entah kenapa, pikiranku rasanya blank!
“Maaf, ya aku sempat tak menghiraukanmu. Aku tak berniat begitu,” Dylan menunduk menatap pada es krimnya dengan kedua tangan mengepal.
Aku menggenggam tangannya, “Tak apa, Dylan. Aku mengerti. Awal aku mengetahui itu juga aku sempat shock.”
“Kita akan mengatakannya pada orang tua kita tentang hubungan kita?” tanya Dylan. “Karena aku tidak mampu jika harus menjalani hari tanpamu,” sambungnya.
Aku mengangguk. Keesokan harinya, kami pergi menemui ibuku. Awalnya ibuku memang sangat kaget. Tapi Dylan menunjukkan tekad dan rasa cintanya untukku pada ibu, ibu pun mau mengerti. Walau sebenarnya aku mengerti, dari nada bicara ibu sepertinya berat rasanya melepasku bersama Dylan, anak dari perempuan yang sekarang menjadi istri mantan suaminya.
Seminggu kemudian, aku dan Dylan pergi menuju rumah Dylan. Perlu waktu lama untuk menyiapkan mental untuk bertemu dengan orang tua Dylan. Ada perasaan ragu dan takut, jika ayah akan menentang hubungan kami. Dengan perlahan, Dylan menjelaskan semuanya. Di luar dugaan, ayah setuju saja, ia bahkan tidak memperlihatkan wajah kaget atau tidak suka.
“Kalau memang menurutmu Jen adalah cintamu, cintailah ia sepenuh hati. Jangan sampai menyesal kalau Jen akan pergi dengan pria lain. Jen kan idola cowok,” ucap ayah dengan nada bercanda. Kami tertawa. Ibu Dylan memang terlihat kurang suka, raut wajah yang sama dengan wajah ibu, tapi akhirnya ia juga mengizinkan hubungan kami. Well, the best day ever!
***
Aku menutup buku harianku yang sudah terlihat usang. Masa lalu itu seperti sinetron. Ada saat klimaks dan anti klimaks. Perjalanan hidupku di masa lalu memang beragam. Kebanyakan surprise. Untungnya ada my prince Dylan, dan sekarang…
“Ma, kita sudah siap piknik?” tanya Jack, putra sulungku, seraya menggandeng Greysia, putri kecilku.
Aku tersenyum kepada mereka, “Iya. Ayo berangkat!”
Aku meletakkan kembali buku harianku di bawah tumpukan baju di lemari dan segera keluar menyusul anak-anakku yang berlarian girang memasuki mobil. Di kursi depan, tempat pengemudi telah duduk pria yang menemaniku 7 tahun ini, ia telah menjadi soulmateku. Dylan.
“Aku lama?” tanyaku.
Dylan menoleh, “Sangat.”
Kami berempat tertawa dan mobil pun melaju menuju sebuah taman, tempat di mana kami akan piknik, juga tempat pertama kali Dylan mengutarakan perasaannya padaku. Tempat ini dulu hanya menjadi taman bermain, namun setelah direnovasi, tempat ini diperluas dan sebagian wilayahnya dijadikan taman hijau.
Yeah, mulai detik ini, hidupku, juga keluargaku, akan bahagia, bersama Dylan, Jack, dan Greysia
.