Pernah nggak sih kepikiran kalo
kita bakalan ketemu lagi titik dimana kita mulai jalan? Kita bakalan kembali
lagi ke titik itu, sengaja atau nggak, disadari atau nggak, semuanya udah kayak
jalannya takdir. Aku nggak tahu aku udah sampai titik itu atau belum, karena
aku masih belum yakin sama perasaanku sendiri. Semua hal makin susah
didefinisikan seiring berjalannya waktu yang makin mendewasakan diri. Tahu-tahu
kita udah berada dalam situasi rumit dimana untuk mengucapkan sesuatu yang
simple aja kadang susah banget. Dari situlah aku mulai menarik kesimpulan. Ada
dua. Yang pertama, aku masih belum dewasa, masih anak-anak yang sisi egoisnya
masih tinggi. Masih mau menang sendiri, selalu ingin dimengerti tanpa mau
mengerti. Berharap semua orang bisa mengerti apa yang aku mau tanpa aku harus
memberitahunya. Tapi logikaku bilang, bukan seperti itu caranya. Tidak semua
orang tahu apa yang benar-benar kita inginkan atau butuhkan. Kesimpulan yang
kedua, kadang ada sesuatu yang memang nggak bisa diungkapkan sama kata-kata.
Perasaan. Oke, “perasaan” itu sebuah kata. Tapi apa yang ada di dalamnya itulah
yang susah diungkapkan. Orang bisa saja bilang kalau dia sedih, dan orang yang
mendengarnya pasti punya definisi
sendiri tentang sedih itu. Seseorang mengatakan sakit hati. Tapi ia tidak bisa
menjelaskan alasan kenapa sebenarnya dia bisa sakit hati. Sakit hati karena
dibohongi? Oleh siapa? Orang yang sama sekali nggak ada hubungannya? Orang dari
masa lalu? Pertanyaan yag selalu bingung untuk aku jawab. Kenapa aku harus
ngerasa sakit hati sama seseorang yang bahkan baru beberapa bulan ini aku
kenal? Orang yang dari dulu selalu jauh, tapi entah kenapa sekarang jadi dekat
seperti ini.
Perasaan cewek itu lebih rapuh
dari ranting tua, lebih tipis dari kertas. Sekali saja ranting itu diinjak,
kertas tersobek, akan sangat susah memperbaikinya seperti semula. Aku nggak
bilang nggak bisa, cuma susah. Mungkin aku lagi dalam kondisi memperbaiki diri
sendiri. Nggak tahu kenapa aku ngerasa aku masih sakit hati. Aku malas untuk jujur,
karena semakin aku jujur, kita makin jauh. Boleh copas? Aku piker tweet ini
lagi pas sama isi hati. “andai dia menyadari betapa berarti hadirnya”. Aku
nggak tahu sebenernya seberapa penting sih hadirnya di hidupku. Tapi 3 bulan
terakhir ini aku ngerasa hidupku itu lebih ringan. Tiap aku ada masalah, aku
tahu kemana aku harus cerita. I just think that I’ve found a shoulder where I
should cry. I have a comfort place where I can share anything. And I should say
that I think you’ve already being my brother which I never had, a best friend
where I can share, a father that can guide me with simple and easy way…
Baru beberapa hari dan belum ada
seminggu, mungkin masih dalam hitungan jam pun, selama aku nggak bisa cerita
apapun karena masih ngerasa aneh dan nyesek, aku makin tambah nyesek. Lost
contact jadi bikin aku ngerasa there’s no one where I can share with. Aku
memang masih punya teman deket yang sering aku curhatin tapi rata-rata nggak
ada yang bisa bener-bener ngerti aku, bahkan aku sendiri juga kadang nggak
ngerti apa kemauanku. Dari situ aku mulai galau. I felt that I lost you for a
while. Nggak tau karena kita intensitas komunikasinya sering selama ini atau
gimana, tapi ya aku ngerasanya gitu. Semakin aku cari alasan yang lebih masuk
akal, makin aku nggak ketemu. Aku bukan orang yang pinter ngatur kata-kata
sebenernya, aku takut salah ngomong dan buat semuanya makin kacau. Aku tahu
ngelupain sesuatu itu, untuk cewek, bener-bener susah. Tapi bisa nggak, kalo
kejadian 3 hari terakhir ini didelete aja. Anggap semua bentuk dari emosiku
nggak pernah terjadi. Aku yang terlalu
berharap. Jadi aku harus tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Kembali
ke masa peralihan SMP ke SMA. Dari sana aku mulai kembali menata perasaan.
Titik dimana semuanya mulai berjalan—setidaknya menurutku—normal. Dan quote of
the night “don’t touch one’s heart if you’ll leave it like yesterday. It’s
enough for breaking the heart once. If you do the same, remember that karma
does exist.”