Sabtu, 21 Januari 2012

Sebuah Kenyataan


            “Anna, kau punya anak perempuan yang manis. Aku yakin jika dia bekerja seperti kau nanti, pasti akan dapat uang lebih banyak,” ucap seorang cowok setengah mabuk yang mampir ke rumah. Orang itu teman ibu. Ucapan itu kudengar saat aku masih kecil. Entah umur berapa, aku tidak mengingatnya lagi. Sekarang umurku 18 tahun dan sampai detik ini pun aku tidak mengetahui sedikitpun dimana ibuku bekerja. Selama ini yang aku tahu, ibu selalu tidur pagi hari setelah membuatkanku sarapan. Saat aku pulang sekolah, ibu menonton tivi. Ia selalu menemaniku saat mengerjakan pr. Ibuku adalah lulusan sarjana―mungkin itulah yang membuatku yakin ibuku mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan jurusannya.
            Hari ini aku dan teman-temanku janjian untuk pergi nonton bioskop lalu belajar kelompok di salah satu rumah teman. Ibu membolehkan aku pergi. Ia menambahkan jika aku bisa menginap di rumah teman jika aku pulang larut malam. Aku sangat senang. Ibuku mengerti apa yang aku inginkan bersama teman. Ia tak hanya seorang ibu di mataku, tetapi juga sahabat. Aku sering bercerita kepadanya tentang apa saja.
            “Hey Jenny, kau punya ibu yang sangat baik, ya? Aku ingin memiliki ibu seperti ibumu juga,” puji Lisa, salah satu temanku. Aku tersenyum menanggapi pernyataannya. Iya, jika dipikir-pikir betapa beruntungnya aku mempunyai ibu seperti ibuku, Anna. Ia sangat perhatian, mungkin karena aku adalah anak semata wayangnya.
            Ayahku, George, menceraikan ibuku saat aku kecil dan belum sekolah. Aku tidak mengerti kenapa ayah tega menceraikan ibu. Yang aku tahu, setelah setahun bercerai, ayah menikah lagi. Dan aku menarik kesimpulan bahwa ayah telah berkhianat dari ibu. Buktinya saja ia langsung menikah dengan perempuan lain begitu resmi bercerai. Aku membenci sosoknya sampai sekarang. Ibu melarangku untuk membencinya. Ia mengatakan bahwa ayahku memang tidak salah. Mereka bercerai karena perbedaan pendapat―hanya itu yang aku tahu.
            Beberapa kali aku bertanya pada ibu, apakah ayah sudah tidak menganggapku lagi sebagai anak, karena ayah memang tidak pernah lagi mengunjungiku ataupun menghubungi kami. Ibu hanya menjawab jika ayah sibuk. Selalu sibuk. Berita terakhir yang aku dengar, istri keduanya, Bella, adalah single parent sebelum ayah menikahinya. Ia punya anak laki-laki dari pernikahan pertamanya. Dan sekarang, ia melahirkan anak perempuan. Mungkin usianya terpaut 6 tahun di bawahku. Aku pernah meminta izin ibu untuk pergi bertemu ayah, namun ibu melarangku. Ia berkata, mungkin saja aku akan diusirnya. Aku tidak pernah membayangkan akan diusir oleh ayah―ayah kandungku sendiri. Entah akan bagaimana jadinya.
            Sesungguhnya, aku rindu sekali sosok ayah di hidupku. Sosok yang keras namun perhatian. Sosok yang kasar namun tulus. Sosok yang over protective namun penyayang. Aku ingin seperti temanku yang lain. Mempunyai ayah, yang jika ia ingin pergi malam hari atau bersama pacar dilarang atau mendapat ceramah singkat. Sosok yang melarang keras penggunaan obat-obatan terlarang. Sosok yang selalu mengecek keberadaan kita dan hal apa saja yang kita lakukan. Atau bentuk over protective yang lain. Aku tidak mengerti mengapa ibu tidak menikah lagi. Apakah ibu trauma dengan pernikahan yang lalu? Apa ibu tidak kesepian saat tidak ada lagi yang menemaninya jika aku tidak berada di dekatnya? Apa ibu tidak merasa ketakutan saat tidak ada lagi sosok seorang pria yang akan melindunginya? Berbagai macam pertanyaan muncul di benakku.
            “Jen, jangan terlalu banyak merenung!” Rosalie menyenggolku pelan. Aku tersadar dari lamunanku. Film yang kami tonton sudah usai dan aku tidak sedikit pun konsentrasiku mengarah ke film yang aku tonton. Huaaah, rugi sekali!
            Aku dan teman-temanku segera pergi menuju tempat Ryan untuk belajar kelompok. Awalnya, kami mengerjakan soal matematika. Setelah satu jam dan beberapa soal terjawab, acara malam ini kami isi dengan percakapan. Kadang ada juga yang melemparkan candaan. Rumah Ryan terdengar ramai dengan kedatangan kami. Katanya, seluruh keluarganya sedang pergi ke luar negeri untu urusan bisnis. Ryan tidak punya saudara, maka rumah besarnya ini hanya dihuni olehnya dan beberapa pembantu.
            Well, aku memang memendam sedikit rasa padanya. Aku menyukai sosoknya yang tegas dan pemberani. Makanya, aku yang biasanya enggan untuk pergi belajar kelompok pun kali ini berusaha untuk datang. Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat. Sudah terlalu larut, temanku yang lain pamit pulang.
            “Rose, aku bisa menginap di rumahmu? Ibu bilang aku bisa menginap di rumah temanku jika sudah larut malam,” pintaku pada Rosalie.
            “Maaf, Jen. Aku bukannya tidak mau, tapi kau tahu kan ayahku seperti apa? Ia tak suka jika ada tamu menginap. Maaf, ya?”
            Aku menatap Lisa, berharap jika ia membolehkan aku menginap. Namun jawabannya tak berbeda jauh dengan Rosalie. Rumah Lisa sederhana dihuni kedua orang tuanya, ia, dan 5 saudaranya. Pasti jika ditambah dengan aku akan menjadi makin sempit. Bagaimana ini? Kalaupun pulang, rumah pasti sudah terkunci dan aku tidak membawa kuncinya. What on earth shall I do?
            “Kau menginap di sini saja, Jen,” tawar Ryan.
            Aku menoleh, “Hah? A-apa? Menginap di sini?”
            “Iya, kau menginap di sini saja untuk malam ini. Kau bisa tidur di kamar tamu. Aku akan menyuruh pembantuku menyiapkannya,” ucap Ryan.
            “Ah, tapi…”
            “Sudahlah. Tak apa. Daripada kau tidur di depan rumah kan?” tambahnya lagi. Akhirnya aku menurut. Aku memasuki kamar tamu di rumah Ryan. Wah, kamarnya rapi sekali. Nyaman rasanya berada di sini.
            “Jen, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?” tawar Ryan di depan pintu.
            “Mau jalan kemana?” tanyaku. Ryan mengatakan hanya jalan-jalan. Akhirnya kami berjalan melewati beberapa toko yang sudah mulai tutup. Langkah Ryan membuatku tercekat. Ia berhenti tepat di depan sebuah klab malam.
            “Bagaimana jika ke sana?”
            “Apa? Ryan, itu kan klab malam. Tak seharusnya kita ke sana,” sanggahku.
            “Ayolah, dari dulu aku penasaran apa saja yang ada di dalamnya,” jawab Ryan menarik tanganku. Aku mengikuti langkahnya. Sebenarnya aku merasa enggan dan sedikit takut, serta rasa aneh yang lain. Aku merasa ada hal yang tak baik akan ku temui. Jantungku berdebar keras. Selalu begitu jika aku merasakan firasat buruk.
            Terlihat beberapa penari di atas panggung dengan pakaian minimnya. Seorang bartender sedang meracik wine yang akan disuguhkan. Banyak pasangan yang berciuman di sudut-sudut ruangan dan… yeeekh, aku jijik melihatnya. Mereka penuh nafsu dari cara mereka berciuman. Tak ada rasa cinta sedikitpun, itu yang aku rasa. Seorang pelayan membawa nampan berisi 2 buah gelas wine dan sebuah botol berpita kuning menuju ke sebuah meja yang diduduki oleh seorang pria dan wanita.
            Aku mengikuti Ryan berjalan. Namun, mataku seolah penasaran dengan pria dan wanita yang didatangi oleh pelayan tadi. Mereka mau apa? Apa membicarakan hal bisnis atau hanya seperti pasangan-pasangan yang aku lihat tadi? Aku mencuri pandang sebentar ke sana.
            Aku melihat pria tadi menuangkan minuman ke dalam gelas mereka dengan senyuman nakal. Aku mencari wajah si wanita itu. Aku heran, wanita mana yang mau duduk berdua dengan pria yang terlihat brengsek itu? Yang jelas, wanita itu pasti buta atau paling tidak, bodoh, karena ia mau-mau saja untuk duduk berdua dengan pria itu.
Sedikit lagi aku berhasil melihat wajah wanita itu, Ryan sesaat menarik lenganku dan menawariku minum. Aku menolaknya. Ia terlihat kesal lalu memesan satu gelas cocktail untuknya. Aku duduk di sebelahnya dan mataku berusaha mencari wajah wanita yang tadi hampir berhasil aku lihat. Namun, sekarang meja itu kosong. Seorang pelayan membersihkan meja itu dan berlalu. Ah, sial. Padahal aku pikir aku bisa melihatnya. Entah kenapa, aku jadi merasa sepenasaran ini.
Akhirnya aku mengajak Ryan pulang. Setelah keluar klab, aku melihat pria tadi bersandar di sebuah mobil mewah yang menurut perkiraanku adalah mobilnya. Ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang, karena sedari tadi ia melihat jam tangannya yang terlihat berkilau dari tempatku berdiri. Aku mengatakan pada Ryan bila aku ingin sebentar lagi di sini. Ryan tidak keberatan. Ia kembali masuk ke dalam klab. Sedang aku tidak. Aku memilih menunggu di luar. Aku masih ingin melihat siapa yang ditunggu.
            Seorang wanita bermantel putih keluar dari klab dengan membawa sebuah tas kecil. Ia memakai kacamata hitam. Aku tidak begitu jelas melihat wajahnya. Ia mendatangi pria itu dan mengecup leher si pria. Aku meleletkan lidah, jijik. Pria itu lantas membuka kacamata wanita itu dan barulah aku tahu siapa wanita itu.
            Mataku panas melihatnya. Aku shock, terpaku, terdiam, terpana. Wanita itu terasa sangat familiar. Sangat familiar. Aku langsung berlari menuju hadapan wanita itu. Dengan perasaan yang tak keruan. Wanita itu pun kaget melihatku di sini. Di tempat kerjanya.
            “IBU!” seruku.











Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar